Senin, 21 November 2011

Menjadi Dosen

Menjadi dosen selama tiga tahun memberiku banyak pengalaman. Sedihnya ada, senangnya juga ada. Hal menyenangkan tentang dosen adalah penghargaan yang begitu tinggi dari mahasiswa dan masyarakat. Hal menyedihkan adalah betapa aku ternyata tidak siap untuk menjadi dosen.

Apabila dilihat selintas, menjadi dosen nampak menyenangkan: masuk kelas, suruh mahasiswa berdiskusi, kasih komentar di akhir perkuliahan, dan memiliki otoritas penuh dalam memberi nilai. Namun, itu hanya kulit luar. Bila ingin menjadi dosen demikian, tentu saja banyak contohnya. Tetapi, apakah kepuasan jiwa atau aktualisasi diri, sebagai kebutuhan puncak manusia versi Bloom, didapatkan?

Kenyataannya, tugas dosen itu begitu banyak. Dosen memiliki tantangan untuk memajukan mahasiswa-mahasiswanya sehingga lebih dekat lagi menuju mimpi mereka yang segudang. Bila ada yang tidak punya, maka tugas dosen untuk memantik agar mimpi itu muncul dan berkobar. Mahasiswa, secara teori, adalah kelompok yang sudah tahu mau menjadi apa, sehingga kuliah menjadi sarana untuk memperoleh kompetensi dan keilmuan lain yang mengantarkan mereka kepada keinginannya.

Dosen juga harus menggunakan metode yang paling efektif, yang bisa berarti tidak efisien,  diantara yang metode-metode yang efektif dalam membelajarkan mahasiswanya. Mungkin kualitas mahasiswa sekarang adalah cerminan dari kemampuan para dosennya. Terlalu banyak teori dan sangat sedikit praktek, telah menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang banyak bicara sedikit berkarya. Bila dosen doyan berteori, maka demikian juga keahlian mayoritas  mahasiswanya. Oleh sebab itu, tantangan pendidikan sekarang adalah bagaimana dosen mencontohkan kepada mahasiswanya berbagai macam konsep, keahlian, dan  pemupukan kebiasaan dalam bentuk aplikasi yang bisal dilihat dan diraba panca indera.

Sementara dosen tidak memperoleh keahlian tersebut dalam pendidikannya. Dan, saya adalah salah seorang diantaranya. Saya begitu keteteran karena ketiadaan yang saya miliki. Saya berusaha mengejar ketertinggalan dengan belajar lagi di sela-sela waktu kerja. Dan sebagaimana pepatah yang sudah begitu umum diketahui, semakin ilmu diselami semakin jauh nampak  dasarnya, maka semakin tahulah saya betapa keringnya ilmu yang saya miliki.

Saat ini mungkin para mahasiswa saya mengalami banyak kesulitan karena berbagai eksperimen, baik yang tertata rapi ataupun yang berantakan, yang saya buat. Harapan saya, saya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan berbagai pengalaman ini. Pengalaman yang saya sendiri belum pernah mengalaminya, namun pernah mengangankan dilakukan oleh guru dan dosen saya.

Ibukmu ini sedang belajar, Nak! Bersabarlah denganku, sebab aku  juga sudah tak semuda dirimu ntuk menyamai kecepatanmu. Aku bangga dengan kecerdasanmu, karena demikianlah fitrah yang ditiupkan Tuhan kepadamu.

Sabtu, 19 November 2011

Mengajar Bahasa Inggris kepada Pemula

Apabila mengajar Bahasa Inggris kepada pemula, maka tugas prioritas guru adalah menanamkan sebanyak mungkin input kedalam memori siswa. Hal ini dapat dilakukan melalui teknik menyimak dan membaca. Untuk menindaklanjuti kegiatan menyimak dan membaca, maka siswa melatih pelafalan/pengucapan bunyi dan penulisan kata. Banyak terdapat kegiatan pelafalan dan penulisan yang menyenangkan. Misalnya, lomba Silly Sentence, Received Pronunciation Contest, dictation dalam berbagai versi, dan seterusnya. Sistem ini diharapkan akan mengembangkan kesensitifan siswa terhadap bunyi dan pelafalan dalam pembelajaran Bahasa Inggris di masa mendatang.

Ketika mengajar pemula, ada baiknya menghindari kegiatan berikut:
1. Menyimak tanpa ada teks yang bisa dibaca
Menyimak adalah latihan pengenalan bunyi, sehingga menyatukannya dengan kegiatan membaca akan lebih bermanfaat
2. Terburu- buru, mengajarkan bermacam-macam tata bahasa berbeda sekaligus
Lebih efektif bila diajarkan pelan-pelan, satu persatu, masing-masing dengan sejumlah latihan yang cukup
3. Mengajarkan teori
Teori seringkali membuat kebingungan para pemula, sehingga lebih baik aturan-aturan dijelaskan setelah latihan
4. Menjelaskan terlalu banyak
Jelaskan secukupnya saja, biarkan otak siswa mengalami proses belajar alaminya untuk penyimpanan ingatan lebih lama
5. Menyuruh para siswa menghasilkan ujaran/karangan bebas
Lebih efektif bila guru memberikan contoh yang bisa mereka tiru, sehingga mereka dapat berbicara/menulis dengan rujukan yang akurat

Bahasa Inggris adalah pelajaran keterampilan. Tantangan guru adalah bagaimana membuat pelajaran keterampilan ini menarik, mudah, menyenangkan dan bermakna. Lucunya, tantangan ini sangat sulit untuk guru karena pengalaman ini adalah pengalaman baru yang mungkin tak pernah dialami sebelumnya. Berbicara pengalaman pribadi, saya mengalami banyak hambatan. Nah internet adalah perpustakaan saya untuk bertanya atau menemukan ide. Sementara, diskusi dengan teman sejawat sangat membantu mengembangkan sudut pandang dan kreatifitas.

Selasa, 15 November 2011

Lesson Plan Sebagai Jimat Keberuntungan Guru

Setiap guru menginginkan keberhasilan pengajaran. Nah, jimat keberuntungan untuk pengajaran yang sukses adalah lesson plan.
Lesson plan yang oke, mestilah dibuat spesifik dengan kelas yang hendak diajar. Untuk mata kuliah yang sama tetapi kelas yang berbeda, maka lesson plan bisa jadi berbeda.
Sebab pemicu pembedaan lesson plan diantaranya:
1. percaya diri siswa
2. pemahaman siswa
3. fasilitas
4. gaya belajar

Berikut adalah aspek-aspek yang diperhatikan dengan seksama sehingga lesson plan dapat menjadi jimat keberuntungan di setiap kelas:
1. sediakan icebreaking sebagai penyelamat bila situasi di kelas kurang semangat untuk belajar
2. rancangkan kegiatan-kegiatan belajar yang menggunakan gabungan kognitif dan psikomotor, maknanya tugas mereka tidak hanya duduk diam, tetapi bergerak dinamis dalam menyelesaikan tugas-tugasnya
3. penciptaan suasana interaksi yang akrab, bersahabat antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa
4. tugas yang diberikan menantang, tetapi masih sesuai dengan tingkat kemampuan siswa
5. penanaman nilai-nilai afektif seperti kedisiplinan, kepemimpinan, penghargaan, kejujuran, dan seterusnya
6. refleksi, sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada

Dibawah ini contoh lesson plan untuk mata kuliah Bahasa Inggris yang pernah saya buat dan modifikasi.


LESSON PLAN
Course                : Bahasa Inggris I
Topic                   : Giving Direction
Goal                     : Ss  are able to ask and give direction on daily life base and show
                                Islamic characters
Objective             : Ss ask and give simple direction correctly, Ss show Islamic characters
Skill(s)                : Integrated
Procedures         :
1. Warm-up (15 mnt)

T  tells the class that she was lost the day before. Then, T asks what the students do when they get confused of direction in the street.  T raises some responses. 
T says, she wants the students solve a puzzle of direction and they have to be quick.
T splits the class into 2 big groups, distributes a piece of maze puzzle for each person, and explains what to do with the maze, and the group should solve the puzzle earlier than the other. 
The winner gets applause. Later, T relates the topic with Islamic values. 
2. Presentation and practice:

a.       T distributes a worksheet. T plays a record from a notebook. Ss do the exercises. T repeats the record when necessary. (15 mnt)
b.      T checks the exercise and use the preposition vocabulary  to make question about direction. (T models expressions we normally use for asking and giving direction., e.g. where is UIN campus?, how do you get to the campus?) (20 mnt)
c.       Ss  tell the position of something/one in the class. (20 mnt)
d.      For correct answers, S gets a candy.
e.      T writes an example how to get to her house from campus on the board. (5 mnt)
f.        Ss write how to get to their house from campus on small paper. No name is written. Then Ss fold the paper twice. (15 mnt)
g.       T  collects the papers, redistributes it to different students.
h.      Ss them read the papers aloud and guess the owner.  (25 mnt)
3. Summary/closing: T sums up what Ss have learnt today. (5mnt).
4. Reflection (on the progress)

Keutamaan Apersepsi Sebelum Mengajar

Hari ini aku ikut pelatihan sebagai pengajar di universitas X. Sesi pertama berupa penjelasan tentang latar belakang pelatihan ini diadakan, disajikan dalam bentuk diskusi panel. Sesi kedua adalah materi. Topiknya, peta konsep. Aku lumayan penasaran, bagaimana Ibu Pemateri ini memulai pelatihan ini.   
Aku tak menunggu lama. Ibu Pemateri memulai dengan perkenalan diri, selanjutnya langsung berbicara tentang peta konsep. Biar interaktif, Ibu Pemateri mengajukan sejumlah pertanyaan kepada peserta pelatihan.
Para peserta kurang bersemangat menjawab pertanyaan. Mereka tahu jawabannya, tetapi malas untuk menjawab. Toh, pada akhirnya, Ibu ini akan menjelaskan juga. Maka disini seorang instruktur/guru perlu mengadakan apersepsi, memecah kebekuan, sehingga peserta bersedia mengeluarkan semangatnya.
Kembali kepada prinsip presentasi, saya teringat bahwa seorang presenter WAJIB menyiapkan presentasinya, rencana cadangan A, B, dst. Termasuk dalam hal ini apersepsi yang maha penting fungsinya memecah kebekuan antar peserta dan antara peserta dengan pemateri .
Demi melihat semangat yang lemah, Ibu Pemateri tak patah semangat, terus mencoba melibatkan para peserta yang pasif ini agar mau berinteraktif. Ia dengan gigih melempar berbagai pertanyaan seputar materi-materi yang sedang dijelaskannya. Hasilnya, lambat laun, suasana panas juga. Salut juga deh.
Strategi pengajaran orang dewasa berbeda dengan pengajaran anak kuliahan di kampus, berbeda dengan pengajaran anak SD. Dengan demikian, apersepsi yg cocok untuk orang dewasa juga tidak sama dengan apersepsi untuk anak kuliahan atau anak-anak. Tapi bisa saja satu apersepsi cocok untuk semua usia. 
Berikut contoh apersepsi yang bisa diberikan pada peserta orang dewasa, yang pernah aku dapat pada pelatihan-pelatihan lain:
1. Tariklah perhatian peserta dengan kharisma/senyum yang tulus dan berceritalah yang menarik sehingga mereka memperhatikan
2. Hangatkan suasana dengan permainan, misalnya, berikan kepada peserta masing-masing selembar kertas HVS dan suruh mereka menuliskan pencapaian prestasi/keahlian yang tak banyak diketahui orang. Selanjutnya, suruh mereka melipat kertas tersebut dalam bentuk yang seragam, mungkin dicontohkan, sehingga yang semua kertas terlipat dalam bentuk yang sama. Berikutnya, kumpulkan lipatan kertas-kertas tersebut dan acak .Lalu, bagikan kembali kepada peserta, minta mereka mengecek isinya. Bila kertas tersebut kertas yang mereka tulis tadi, tukarkan dengan kertas yang lain sehingga setiap orang mendapat kertas yang bukan milik mereka. Selanjutnya suruh mereka satu persatu menebak pemilik dari kertas yang mereka pegang. Suasananya dijamin berubah heboh dan seru.
3. Ketika semangat sudah menyala, mulailah berpresentasi karena para peserta sudah siap berkoar-koar.

Sebagai salah seorang yang hobi ikut pelatihan dengan kaum Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, aku pikir, Instruktur sebaiknya jangan pakai metoda ceramah yang panjang, karena pasti pesertanya lekas bosan.Gunakan pembelajaran siswa aktif yang bervariasi.  Rencanakan kegiatan-kegiatan yang mengaktifkan adrenalin para peserta. Pelatihan bakal tidak terlupakan. Selamat mencoba.