Selasa, 15 November 2011

Keutamaan Apersepsi Sebelum Mengajar

Hari ini aku ikut pelatihan sebagai pengajar di universitas X. Sesi pertama berupa penjelasan tentang latar belakang pelatihan ini diadakan, disajikan dalam bentuk diskusi panel. Sesi kedua adalah materi. Topiknya, peta konsep. Aku lumayan penasaran, bagaimana Ibu Pemateri ini memulai pelatihan ini.   
Aku tak menunggu lama. Ibu Pemateri memulai dengan perkenalan diri, selanjutnya langsung berbicara tentang peta konsep. Biar interaktif, Ibu Pemateri mengajukan sejumlah pertanyaan kepada peserta pelatihan.
Para peserta kurang bersemangat menjawab pertanyaan. Mereka tahu jawabannya, tetapi malas untuk menjawab. Toh, pada akhirnya, Ibu ini akan menjelaskan juga. Maka disini seorang instruktur/guru perlu mengadakan apersepsi, memecah kebekuan, sehingga peserta bersedia mengeluarkan semangatnya.
Kembali kepada prinsip presentasi, saya teringat bahwa seorang presenter WAJIB menyiapkan presentasinya, rencana cadangan A, B, dst. Termasuk dalam hal ini apersepsi yang maha penting fungsinya memecah kebekuan antar peserta dan antara peserta dengan pemateri .
Demi melihat semangat yang lemah, Ibu Pemateri tak patah semangat, terus mencoba melibatkan para peserta yang pasif ini agar mau berinteraktif. Ia dengan gigih melempar berbagai pertanyaan seputar materi-materi yang sedang dijelaskannya. Hasilnya, lambat laun, suasana panas juga. Salut juga deh.
Strategi pengajaran orang dewasa berbeda dengan pengajaran anak kuliahan di kampus, berbeda dengan pengajaran anak SD. Dengan demikian, apersepsi yg cocok untuk orang dewasa juga tidak sama dengan apersepsi untuk anak kuliahan atau anak-anak. Tapi bisa saja satu apersepsi cocok untuk semua usia. 
Berikut contoh apersepsi yang bisa diberikan pada peserta orang dewasa, yang pernah aku dapat pada pelatihan-pelatihan lain:
1. Tariklah perhatian peserta dengan kharisma/senyum yang tulus dan berceritalah yang menarik sehingga mereka memperhatikan
2. Hangatkan suasana dengan permainan, misalnya, berikan kepada peserta masing-masing selembar kertas HVS dan suruh mereka menuliskan pencapaian prestasi/keahlian yang tak banyak diketahui orang. Selanjutnya, suruh mereka melipat kertas tersebut dalam bentuk yang seragam, mungkin dicontohkan, sehingga yang semua kertas terlipat dalam bentuk yang sama. Berikutnya, kumpulkan lipatan kertas-kertas tersebut dan acak .Lalu, bagikan kembali kepada peserta, minta mereka mengecek isinya. Bila kertas tersebut kertas yang mereka tulis tadi, tukarkan dengan kertas yang lain sehingga setiap orang mendapat kertas yang bukan milik mereka. Selanjutnya suruh mereka satu persatu menebak pemilik dari kertas yang mereka pegang. Suasananya dijamin berubah heboh dan seru.
3. Ketika semangat sudah menyala, mulailah berpresentasi karena para peserta sudah siap berkoar-koar.

Sebagai salah seorang yang hobi ikut pelatihan dengan kaum Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, aku pikir, Instruktur sebaiknya jangan pakai metoda ceramah yang panjang, karena pasti pesertanya lekas bosan.Gunakan pembelajaran siswa aktif yang bervariasi.  Rencanakan kegiatan-kegiatan yang mengaktifkan adrenalin para peserta. Pelatihan bakal tidak terlupakan. Selamat mencoba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar